PENDIDIKAN SEBAGAI SOLUSI
PERSOALAN LINGKUNGAN HIDUP
Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Isu-Isu Aktual dalam Pendidikan
Dosen Pengampu: Indra
Fajar Nurdin, S.Pd., M. Ag.
Oleh Kelompok 4:
Fahrurozi (13410194)
Miftahul Aziz (13410062)
Siti Maryam (13410219)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia
merupakan makhluk yang memerlukan pendidikan karena dengan pendidikan, manusia
akan menjadi “manusia”. Proses pendidikan itu selalu berada dalam sebuah
lingkungan, baik itu lingkugan keluarga, lingkungan masyarakat, ataupun
lingkungan sekolah. Ketiga lingkungan tersebut berada dalam satu lingkungan
yaitu lingkungan hidup. Manusia melangsungkan hidupnya di sebuah lingkungan
hidup yang biasa kita sebut alam.
Ada hubungan
yang signifikan antara manusia dan lingkungan hidup tersebut. Manusia akan
merasa damai apabila hidup dalam lingkungan yang asri, apalagi dalam sebuah
proses mengenyam pendidikan, lingkungan juga sangat menentukan. Sebuah
lingkungan hidup akan tetap asri apabila dijaga dan dilestarikan. Manusia berkewajiban untuk menjaga serta melestarikan lingkungan.
Melihat kondisi lingkungan hidup saat ini yang semakin buruk, pendidikan
seyogyanya juga turut berperan lebih dalam pelestarian lingkungan hidup. Oleh
karena itu, di dalam makalah ini kami akan membahas tentang Pendidikan sebagai
Solusi Persoalan Lingkungan Hidup.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa itu pendidikan dan konsep
lingkungan hidup?
2.
Apa urgensi pendidikan
lingkungan hidup di Sekolah?
3.
Bagaimana pendidikan
lingkungan hidup di Sekolah?
C.
Tujuan
1.
Memahami pengertian dan konsep
lingkungan hidup.
2.
Mengetahui urgensi
pendidikan lingkungan hidup di Sekolah.
3.
Mengetahui pendidikan
lingkungan hidup di Sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan
Tujuan Pendidikan
1.
Pengertian Pendidikan
Secara luas, arti dari
pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah
segala situasi di ligkungan hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.
Pendidikaan dalam arti
sempit, yaitu pengajaran yang disediakan di sekolah lembaga pendidikan formal.
Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan
remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna. [1]
Pendidikan adalah usaha
sadar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, ataupun latihan yang berlangsung di sekolah atau di luar
sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan diri agar dapat memainkan peranan
dalam lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. [2]
2.
Tujuan Pendidikan
Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab
II Pasal 3, secara jelas disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.[3]
Secara rinci, ada empat macam tujuan
pendidikan, yaitu sebagai berikut.
1.
Tujuan Nasional
Tujuan nasional pendidikan merupakan
tujuan umum pendidikan nasional yang di dalamnya terkandung rumusan kualifikasi
umum yang diharapkan dimiliki oleh setiap warga negara setelah mengikuti dan
menyelesaikan program pendidikan nasional tertentu.
2.
Tujuan Institusional
Tujuan ini merupakan tujuan lembaga
pendidikan sebagai pengkhususan dari tujuan umum, yang berisi kualifikasi yang
diharapkan diperoleh oleh anak setelah menyelesaikan studinya di lembaga
pendidikan tertentu.
3.
Tujuan Kurikuler
Tujuan ini adalah penjabaran dari
tujuan institusional, yang berisi kualifikasi yang diharapkan dimiliki oleh si
terdidik setelah mengikuti program pengajaran dalam suatu bidang studi
tertentu, misalnya tujuan untuk mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam,
Akidah Akhlak, dan sebagainya.
4.
Tujuan Instruksional
Rumusan ini merupakan pengkhususan dari
tujuan kurikuler, dan dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.
Tujuan Instruksional Umum
(TIU), merupakan rumusan yang berisi kualifikasi sebagai pernyataan hasil
belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran di dalam pokok bahasan
tertentu, namun belum dirumuskan secara khusus dalam bentuk perubahan tingkah
laku siswa yang mudah diamati dan tidak menimbulkan banyak interpretasi.
b.
Tujuan Instruksional
Khusus (TIK) merupakan penjabaran lebih lanjut dari TIU, berisi kualifikasi
yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah mengikuti pelajaran dalam sub
pokok bahasan tertentu. TIK dirumuskan dengan menggunakan istilah yang
operasional, dari sudut produk belajar dan tingkah laku anak didik serta
dinyatakan dalam rumusan yang sangat khusus, sehingga tujuan tersebut mudah
dinilai, dan tidak menimbulkan salah penafsiran.[4]
Berdasarkan tujuan
pendidikan yang telah dijelaskan di atas, dapat kami simpulkan bahwa pada
dasarnya pendidikan bertujuan untuk menciptakan peserta didik agar menjadi
generasi pembangun bangsa yang cerdas, berakhlak mulia, takwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, kreatif, mandiri, dan berkompeten sehingga nantinya dapat membangun
bangsa Indonesia yang bermartabat.
B.
Konsep
Lingkungan Hidup
1.
Pengertian Lingkungan
Hidup
Lingkungan hidup berasal dari kata lingkungan dan hidup.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lingkungan diartikan sebagai daerah
(kawasan), yang termasuk di dalamnya, sedang lingkungan alam diartikan sebagai
keadaan (kondisi, kekuatan) sekitar, yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah
laku organisme. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S.
Poerwadarminta, lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi
(melingkari), lingkaran, sekalian yang terlingkung dalam suatu daerah atau alam
sekitarnya, bekerja sebagaimana mestinya yang dapat mempengaruhi penghidupan dan
kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, ataupun makhluk lainnya. Dalam Kamus
Lingkungan Hidup yang disusun oleh Michael Allaby, lingkungan hidup diartikan
sebagai the physical, chemical, and biotic condition surrounding and
organism.[5]
Sartain (seorang ahli Psikologi Amerika) mengatakan bahwa
yang dimaksud dengan lingkungan (environment) adalah meliputi semua
kondisi di dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku
kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali
gen-gen. Bahkan gen-gen pun merupakan sesuatu yang dapat menyiapkan lingkungan
bagi gen yang lain.[6]
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
lingkungan hidup merupakan kondisi alam yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan
dan tingkah laku manusia maupun makhluk hidup lainnya.
2.
Unsur-unsur Lingkungan
Hidup
Unsur-unsur lingkungan hidup merupakan
segala hal yang menjadi bagian dari lungkungan hidup. Adapun unsur-unsur
tersebut antara lain: [7]
a.
Materi
Materi adalah segala
sesuatu yang ada di tempat dan waktu tertentu. Menurut pendapat kuno, semua
benda terdiri dari empat materi asal, yaitu api, air, tanah, dan udara. Materi
diperlukan untuk susunan tubuh (manusia, hewan, dan tumbuhan). Materi mengalir
dari mata rantai makanan yang satu ke mata rantai makanan yang lain. Jika satu
makhluk mati, itu tida berarti aliran materi terhenti, melainkan makhluk yang
mati menjadi makanan makhluk yang lain. Misalnya, bangkai hewan dimakan oleh
jasad renik, seperti bakteri dan jamur dalam proses pembusukan.
b.
Energi
Energi atau disebut juga
daya adalah sesuatu yang memberikan kemampuan untuk menjalankan kinerja. Energi
dapat mengalami perubahan bentuk (transformasi energi), misalnya energi listrik
menjadi energi gerak, dan sebagainya. Adapun hubungan antara materi dengan
energi sangat erat. Untuk memperoleh materi, seseorang harus makan karena
makanan adalah sumber materi. Setelah materi tersebut diperoleh, maka akan
timbul energi sehingga seseorang dapat menjalankan aktivitas.
c.
Ruang
Ruang adalah tempat atau
wadah komponen-komponen lingkungan hidup. Oleh karena itu, dimana terdapat
komponen lingkungan hidup, maka disitulah terdapat ruang atau wadah.
d.
Keadaan
Keadaan disebut juga
kondisi atau situasi. Ada berbagai macam keadaan, antara lain: membantu
kelancaran berlangsungnya proses kehidupan lingkungan; ada yang mernagsang
makhluk hidup untuk melakukan sesuatu; dana ada pula yang justru mengganggu
berprosesnya interaksi lingkungan dengan baik.[8]
C.
Urgensi
Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah
Urgensi pendidikan
lingkungan didorong oleh kualitas lingkungan di sekitar kita yang dari hari ke
hari telah menjadi semakin mengkhawatirkan, hal itu seperti:
1.
Penyelamatan air dari
eksploitasi secara berlebihan dan pencemaran yang kian meningkat, baik air
tanah, air sungai, danau, rawa, maupun air laut. Saat ini dan kedepan,
kebutuhan akan air tawar makin meningkat didorong oleh pertambahan penduduk dan
keperluan pembangunan, baik untuk air minum, irigasi, perikanan, industri,
rekreasi, atau pariwisata.
Namun, peningkatan akan permintaan
volume air ini tidak dibarengi dengan kualitas air. Kegiatan industri,
transportasi, dan pemukiman, membuang limbahnya ke sungai, tanah, dan laut,
sehingga meningkatkan kadar pencemaran air.
2.
Merosotnya kualitas tanah
serta hutan akibat tekanan penduduk dan eksploitasi besar-besaran untuk
keperluan pembangunan. Luas hutan menciut karena dialihfungsikan untuk
pertanian, permukiman, ataupun kegiatan ekonomi. Ini mengakibatkan erosi
meningkat dan kualitas tanah menurun.
3.
Menciutnya keanekaragaman
hayati akibat rusaknya habitat lingkungan hidup berbagai tumbuh-tumbuhan dan
hewan. Penciutan hutan mengakibatkan hilangnya habitat aneka jenis
tumbuh-tumbuhan dan hewan, yang membawa kemusnahannya. Padahal manusia
memerlukan berbagai ragam jenis tumbuhan dan hewan sebagai bahan pangan,
obat-obatan, dan industri.
4.
Perubahan iklim, yang
menurut para ilmuwan sudah terjadi saat ini. Kadar pencemaran udara semakin
tebal akibat dilepaskannya zat karbon ke udara oleh manusia melalui alat-alat
angkutan, pusat-pusat listrik, dan cerobong-cerobong industri.
5.
Udara yang tercemar
bagaikan selimut yang membungkus Bumi. Panas bumi oleh cahaya matahari yang
semula bisa terbang bebas ke udara sehingga tidak mempengaruhi iklim bumi,
terhambat. Panas bumi ditahan selimut cemar tadi, terpantul ke Bumi dan
mengubah iklim Bumi.
6.
Meningkatnya jumlah
kota-kota berpenduduk banyak. Meningkatnya kota berpenduduk banyak berkaitan
dengan proses industrialisasi yang mendorong proses urbanisasi. Dan penduduk
yang begitu banyak itu memerlukan perumahan yang dekat dengan tempat kerjanya.
Belum lagi kemacetan yang disebabkan yang nantinya akan menimbulkan pencemaran
yang semakin tidak terkendali.[9]
Hal tersebut diatas
terjadi karena perbuatan manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan alam dan
kurang memikirkan dampak apa yang terjadi di masa mendatang. Jika tidak ada
upaya untuk memperbaikinya maka akan menyengsarakan kita dan anak cucu kita
sendiri. Berkaitan dengan itu, pendidikan lingkungan dipandang sebagai salah satu solusi atas
permasalahan-permasalahan terkait lingkungan. Hal ini dikarenakan pendidikan
merupakan salah satu sarana ampuh untuk mengubah perilaku manusia atau peserta
didik untuk menjadi lebih baik. Selain itu juga supaya peserta didik memilik
pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan untuk berperan aktif dalam rangka
melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Mengapa sasarannya
peserta didik? Jika peserta didik yang sudah diajarkan tentang lingkungan hidup,
harapannya adalah adanya perubahan tingkah laku dalam diri peserta didik
terhadap lingkungan di sekitarnya; selain mereka dilatih untuk pelestarian
lingkungan mereka juga diharapkan menjadi model agen pengubah di tengah-tengah
masyarakat yang kurang peduli akan lingkungan lalu membangun kesadarannya dan
mengajaknya untuk menjadi masyarakat yang peduli lingkungan. Sikap mengindahkan
lingkungan hidup juga penting untuk menanamkan pola hidup yang serasi dengan
keadaan lingkungan. Kesadaran lingkungan ini juga menumbuhkan solidaritas
lintas generasi, oleh karena memperbaiki lingkungan alam sekarang akan
bermanfaat bagi generasi mendatang.
Pada akhirnya sadar
lingkungan ini akan menumbuhkan rasa cinta alam dan dengan begitu meningkatkan
rasa takwa kepada Allah SWT Sang Pencipta Alam. Sehingga melalui pendidikan
lingkungan hidup ini dapat membentuk watak peserta didik yang memiliki
keselarasan hidup antara manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam, dan
manusia dengan Tuhannya.[10]
Jadi, urgensi pendidikan lingkungan
hidup di sekolah yaitu sebagai berikut:
1.
Memberikan pengetahuan,
kesadaran, dan keterampilan peserta didik agar dapat berperan aktif dalam
menjaga dan melestarikan lingkungan, bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi
juga lingkungan alam secara luas.
2.
Menciptakan peserta didik
sebagai agent of change. Peserta didik nantinya bukan hanya sekedar
mengetahui dan mengamalkannya sendiri, tetapi juga senantiasa mengajak
orang-orang di sekitarnya untuk turut serta dalam menjada dan melestarikan
lingkungan.
3.
Membentuk watak peserta
didik agar memiliki keselarasan hidup dengan lingkungan, masyarakat sekitar,
maupun dengan Tuhan. Peserta didik yang memiliki kesadaran akan lingkungan akan
senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan sehingga dapat meningkatkan
ketakwaannya terhadap Tuhan.
D.
Pendidikan
Lingkungan Hidup di Sekolah
Dalam kehidupan manusia kita tidak
dapat terlepas dari hubungan dengan Alam. Karena manusia membutuhkan lingkungan
hidup disekitarnya untuk bertahan hidup. Dalam berinteraksi dengan lingkungan
hidup tentunya memerlukan pengetahuan tentang bagaimana kita menyikapi
alam. Maka dari itu pendidikan tentang
lingkungan hidup perlu disampaikan kepada siswa. Pendidikan lingkungan perlu
diberikan kepada siswa tentang kondisi alam, kedudukan alam dan bagaimana cara
mengelola dan mengatasi persoalan lingkungan hidup.
Menurut Soedjoko, dkk Pendidikan
lingkungan hidup dapat dipahami sebagai upaya mengubah perilaku dan sikap yang
dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang
nilai-nilai lingkungan dan isu isu permasalahan lingkungan yang akhirnya dapat
menggerakan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan
keselamatan lingkungan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Pendidikan lingkungan perlu dimulai dari
dasar, mulai TK, SD, SMP, SMA/K. Sejak dini, generasi muda kita perlu memahami
akan makna kehidupan kita sebagai manusia, dimulai dengan tanggung jawab dan
kewajiban. HAM baru pantas kita peroleh
ketika kita sudah selesai melaksanakan kewajiban kita. Hal ini sesuai dengan
kesepakatan antara menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Lingkungan Hidup
tanggal 3 juni 2005.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka
pendidikan lingkungan harus berdasarkan konsep dasar makna lingkungan
hidup. Pendidikan lingkungan berupa
pendidikan kecerdasan, khusus untuk kemampuan dan keterampian yang dapat
dilaksanakan secara formal, informal maupun nonformal. Pendidikan lingkungan
secara keseluruhan untuk mengajarkan membina dan memberi teladan dan dorongan
sikap dan perilaku untuk melaksanakan pengelolaan ekosistem secara bermakna.
Dalam pendidkan diperlukan pengamatan
terhadap tatanan alam yang sudah mulai dilupakan. Makna hidup dari semua jenis
makhluk perlu menjadi dasar pendidikan mulai dari moral dan etika sebagai
kecintaan kita terhadap jenis apapun, baik tumbuhan, jamur, maupun binatang.
Hal itu dapat dimulai dengan menyayangi dan mengerti kehidupan semua jenis
makhluk yang ada disekitar kita, diataranya
tumbuhan yang indah, bunga buah, bijimaupun kayu atau daunnya dengan
menghasilkann sesuatu yang bermakna seperti kencur berbagai jamu dan penyedap
makanan, buah pepaya, buah mangga. Sedangkan hewan peliharaan seperti kucing,
ayam, burung kesayangan yang menyemarakkan rumah kita tidak berlu di kurung,
melainkan hidup bebas di pekarangan.
Pada saat ini kita sudah mulai gelisah
dengan punahnya harimau, gajah, penyu hijau dan lain sebagainya. Akan tetapi
kita belum merasakan kegelisahan akan punahnya kucing dan burung disekitar
rumah kita. Untuk itu, pada jenjang pendidikan dasar perlu diberikan pemahaman tentang kepedulian terhadap mereka.[11]
Keanekaragaman hayati disekitar
lingkungan tempat tinggal kita hingga di wilayah kebun dan hutan juga lambat
laun mulai berkurang. Banyak sekali jenis tumbuhan yang punah sehingga
mengurangi keindahan berbagai jenis tumbuhan yang menghiasi alam. Atas alasan
ekonomi dan mebuka lahan pertanian berabagai tanaman yang dianggan tidak
dibutuhkan oleh manusia di habisi. Padahal
meskipun dianggap kurang bermanfaat bagi manusia namun bagi alam dan
hewan dapat pula tumbuhan itu memiliki kegunaan dan manfaat yang besar.
Dalam panduan untuk agenda 21 yang dirumuskan
dalam konferensi PBB di Rio de Janeiro tentang Pembangunan Lingkungan (UNCED)
pada tahun 1992, disebutkan tentang status kelembagaan pendidikan sebagai
berikut:
“Education is the social
institution whit the main responsinility for passing on to succedung
generations the wisdom, knowledge and experience gained from the past (1992)”
Dalam buku Radha (1991) disebutkan
bahwa pendidikan harus dimulai dengan mendidik diri sendiri terlebih dahulu
sebelum mendidik orang lain. Sesuai dengan kata kata ing ngarsa sung thulada
ing madya mangun karso tut wuri handayani, pendidik harus dapat
memposisikan diri baik di depan (memberikan teladan), di tengah (mendorong),
dan di belakang ( mengayomi).
Pengetahuan dapat diperoleh dari mana
saja baik dari sekolah, media internet, televisi dan lain sebagainya. Akan
tetapi pengetahuan itu tidak berguna apabila tidak di aplikasikan di kehidup
nyata . Dengan mengaplikasikan pengetahuan yang kita miliki menjadikan
pengetahuan itu bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.[12]
Dari pemaparan di atas sudah seharusnya
pendidkan yang disampaikann bukan hanya di mengerti dan dipahami tapi yang
paling penting adalah dengan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagitu pula dengan pendidikan lingkungan hidup, banyak orang yang sudah paham
dan engerti akan pentingya menjaga lingkungan, akibat kerusakan lingkungan.
Akan tetapi ego manusia untuk dapat mengeruk SDA demi kepentingan pribadi dan
juga tak jarang karena kebutuhan ekonomi membuat pengetahuannya tentang
lingkungan hidup di abaikan atau dilupakan.
Dalam penerpan pendidikan lingkungan
hidup di sekolah saat ini memang tidak ada mata pelajaran khusus yang membahas
secara khusus Pendidikan lingkungan hidup. Akan tetapi di integrasikan dengan
mata pelajaran lain yang ada.
Diantaranya Pendidikan agama, fisika, biologi, bahasa indonesia. Dalam
penyampaian materi dimasuki unsur pendidikan lingkungan hidup.
Dalam pembelajaran materi PLH perlu
memperhatikan 3 unsur penting pennting yakni hati, pikiran, dan tangan. Di mana
satu dengan lainnya saling berkaitan. Untuk membangkitkan kesadaran manusia
terhadap lingkungan hidup di sekitamya, proses yang paling penting dan harus
dilakasanakan adalah dengan menyetuh hati agar pemahaman bisa benar benar
dihayati. Jika proses penyadaran telah
terjadi dan perubahan sikap serta pola pikir terhadap lingkungan telah terjadi,
maka dapat dilakukan dengan peningkatan pengetahuan dan pcmahaman mengcnai
lingkungan hidup (pikiran), serta peningkatan ketrampilan dalam mengelola lingkungan
hidup (tangan).[13]
Dalam memberikan pendidikan lingkungan
hidup di sekolah, tidak hanya berhenti pada proses pembelajaran akan tetapi
juga dapat dilaksanakan kegiatan lain
melalui kebijakan sekolah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan sekolah dalam rangka untuk
meningkatkan keterampilan siswa dalam melestarikan lingkungan:
1.
Kebijakan Berwawasan Lingkungan
Sekolah berhak mengeluarkan kebijakan yang didalamnya mengandung nilai
kesadaran lingkungan. Beberapa kebijakan yang mungkin bisa menjadi solusi
antara lain :
a.
Kegiatan bersih-bersih lingkungan
sekolah.
b.
Pembuatan tata tertib atau aturan
mengenai penghematan sumber daya alam.
2.
Pengembangan Kurikulum Berbasis
Lingkungan
3.
Mengintegrasikan mata pelajaran yang
ada dengan materi pendidikan lingkungan hidup.
4.
Menyediakan ekstrakulikuler yang di
dalamnya berisi wawasan lingkungan hidup.
5.
Memasukan pendidikan lingkungan hidup
sebagai muatan lokal jika memungkinkan.
E.
Peran
Pendidikan dalam Mengatasi Masalah Pencemaran Lingkungan (Sumber Daya Air)
Banyak negara saat ini menghadapi masalah kesehatan masyarakat yang terkait dengan degradasi
kualitas air, minimnya penyediaan air bersih, buruknya sistem drainase dan
sanitasi, serta kurang memadainya pengelolaan sumber daya air dan lingkungan.
Pada waktu air hujan jatuh dari langit, air ini relatif masih bersih meskipun
dalam perjalanan jatuh ke bumi membawa partikel-partikel yang tersebar di
udara, demikian juga sewaktu masuk ke dalam perut bumi, air hujan akan
tersaring oleh pori-pori tanah. Air masih tetap bersih sampai ia keluar sebagai
mata air dan akhirnya membentuk sungai-sungai kecil. Pada waktu air sungai
mengalir melewati daerah pemukiman, mulailah airnya tercampur oleh limbah
domestik dari rumah tangga maupun bahan kimia beracun dan berbahaya dari
industri. Limbah biologis telah dialirkan ke dalam sungai selama berabad-abad,
seringkali tanpa pengolahan sebelumnya.
Mengambil kasus di Indonesia, saat ini misalnya,
sungai-sungai di Jakarta menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga,
industri serta sampah. Sungai Ciliwung yang merupakan salah satu dari 13 sungai yang ada di Jakarta, telah
mengalami penyempitan dan pendangkalan. Jika semula lebar sungai ini adalah 60
meter, kini tinggal 15 meter dan bantaran sungainya penuh dengan pemukiman
kumuh. Praktis sungai-sungai di Jakarta tidak dapat diandalkan sebagai sumber
penyedia air bersih bagi warga ibukota.
Berita terakhir mengenai sungai Ciliwung masih tetap
memprihatinkan. Tingkat pencemaran sungai ini diukur dengan parameter apapun,
sudah jauh melampaui batas yang diijinkan. Derek sampah di Pintu Air Manggarai
tetap menghasilkan tumpukan sampah yang menggunung pada saat dilakukan
pembersihan berkala. Warna airnya tetap kelam keabu-abuan dan mengeluarkan
senyawa kimia yang baunya tidak sedap. Sumber pencemar di Sungai Ciliwung
berasal dari rumah tangga, pedagang kaki lima, industri rumah tangga, industri
menengah, industri besar dan aktivitas kehidupan lainnya.
Limbah air tidak selalu berakhir di sungai atau danau.
Seringkali limbah itu merembes masuk ke dalam tanah dan bergabung dengan
cadangan air tanah. Karena air tanah bergerak jauh lebih lambat daripada
sungai, setelah terkontaminasi biasanya air tanah tetap berada di tempatnya
dalam waktu yang sangat lama. Dari Amerika Serikat dilaporkan bahwa air tanah
di lebih dari 40 negara bagian terkontaminasi oleh nitrat dan pupuk. Lebih dari
30 negara bagian air tanahnya juga bermasalah dengan pestisida, residu bensin
dan logam berat.
Telaah-telaah yang komprehensif terhadap pencemaran air
perlu dilakukan dengan melibatkan parameter kualitas lingkungan. Telaah
terhadap kualitas air memerlukan suatu pengetahuan dan pemahaman yang memadai
tentang terminologi kualitas air, keterkaitan antar parameter, hubungan kausatif antar parameter, dan peran
parameter-parameter tersebut terhadap keseimbangan lingkungan perairan.
Kualitas air utuk kebutuhan hidup sehari-hari harus memenuhi beberapa
parameter. Pertama adalah parameter fisika yang meliputi suhu, kekeruhan,
padatan terlarut dan sebagainya. Kedua adalah parameter kimia yang meliputi
derajad keasaman (pH), oksigen terlarut, kadar logam dan sebagainya. Ketiga
adalah parameter biologi yang meliputi keberadaan plankton, bakteri dan
sebagainya.
Air yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak
pernah lepas dari pengaruh pencemaran yang diakibatkan oleh aktivitas manusia
sendiri. Beberapa bahan pencemar seperti bahan mikrobiologik (bakteri, virus,
parasit), bahan organik (pestisida, detergen, minyak) dan beberapa bahan
anorganik (garam, asam, logam) serta beberapa bahan kimia lainnya sudah banyak
ditemukan dalam air yang dikonsumsi setiap hari. Air yang sudah tercemar selain
terasa kurang enak ketika diminum, juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan
terhadap orang yang mengkonsumsinya. Polusi sumber daya air juga berpengaruh
buruk terhadap makhluk hidup selain manusia, menurunkan produktivitas tanaman
pertanian, perikanan, maupun peternakan. Hasil akhirnya adalah menurunkan daya
saing bangsa dalam perdagangan internasional di pasar bebas yang sangat
mengutamakan mutu dan perlindungan kepada konsumen.
Meski telah terjadi lompatan-lompatan besar dalam penanganan
limbah air, namun hingga saat ini belum ada bentuk teknologi pengolahan limbah
yang berhasil dibuat untuk menyingkirkan semua kontaminan kimia yang masuk ke
dalam aliran-aliran sungai. Sudah diketahui secara luas bahwa bukan hanya akan
diderita oleh biota akuatik yang hidup dalam lingkungan perairan yang tercemar
seperti sungai dan badan air lainnya, melainkan juga biota terestrial di
sekital badan air. Bagi kehidupan luar, air tanah yang terkontaminasi tingkat
bahayanya tidak setinggi sungai atau danau yang terkontaminasi. Namun bagi
manusia bahayanya justru lebih besar. Air tanah sering digunakan sebagai air
minum dan irigasi daerah pertanian. Karena manusia mengambil demikian banyak
air dari tanah, maka cemaran apapun yang masuk ke dalamnya akan sampai juga
kepada manusia melalui berbagai jalur, seperti air minum dan rantai makanan.[14]
Berdasarkan kasus pencemaran air tersebut, dapat kita
ketahui bahwa pencemaran air seperti yang terjadi saat ini disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
a.
Semakin banyaknya limbah
domestik dari rumah tangga maupun bahan kimia berbahaya dari industri yang
dibuang sembarangan di aliran-aliran air
b.
Pembuangan sampah-sampah
sembarangan baik oleh warga maupun industri.
Dalam mengatasi kasus tersebut, kita sebagai manusia yang
mencintai lingkungan seharusnya memikirkan dan merealisasikan bagaimana cara
memurnikan kembali air yang sudah terkontaminasi. Selain itu, pendidikan juga
sangat berperan penting untuk menciptakan agent of change yang memiliki
jiwa cinta lingkungan, yang kemudian akan menciptakan perubahan-perubahan
terhadap lingkungan agar lebih terjaga, sehingga nantinya kasus pencemaran air
ini tidak terulang kembali.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pendidikan adalah usaha
sadar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, ataupun latihan yang berlangsung di sekolah atau di luar
sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan diri agar dapat memainkan peranan
dalam lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.
Pada dasarnya, pendidikan
bertujuan untuk menciptakan peserta didik agar menjadi generasi pembangun
bangsa yang cerdas, berakhlak mulia, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kreatif,
mandiri, dan berkompeten sehingga nantinya dapat membangun bangsa Indonesia
yang bermartabat.
Lingkungan hidup
merupakan kondisi alam yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan tingkah
laku manusia maupun makhluk hidup lainnya. Di dalam lingkungan hidup ada
beberapa unsur yang menjadi bagian dari lingkungan hidup. Unsur-unsur tersebut
berupa materi, energi, ruang, dan keadaan.
Pendidikan memiliki
hubungan yang signifikan dengan lingkungan hidup. Pendidikan akan menciptakan
manusia-manusia yang sadar dan cinta terhadap lingkungan hidup, karena
pendidikan itu sendiri berlangsung di dalam lingkungan hidup. Dengan lingkungan
hidup yang asri, maka proses pendidikan tersebut akan berjalan dengan nyaman.
Oleh karena itu, di dalam pendidikan sangat diperlukan adanya pendidikan
lingkungan hidup secara khusus bagi peserta didik.
Adapun urgensi pendidikan
lingkungan hidup di sekolah antara lain memberikan pengetahuan, kesadaran, dan
keterampilan peserta didik agar dapat berperan aktif dalam menjaga dan
melestarikan lingkungan, bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga
lingkungan alam secara luas; menciptakan peserta didik sebagai agent of
change; membentuk watak peserta didik agar memiliki keselarasan hidup
dengan lingkungan, masyarakat sekitar, maupun dengan Tuhan.
Untuk meningkatkan
keterampilan siswa dalam melestarikan lingkungan, sekolah perlu melaksanakan
hal-hal seperti kebijakan berwawasan lingkungan (kegiatan bersih-bersih
lingkungan sekolah dan pembuatan tata tertib atau aturan mengenai penghematan
sumber daya alam); pengembangan kurikulum berbasis lingkungan; pengintegrasian
mata pelajaran yang ada dengan materi pendidikan lingkungan hidup; penyediaan
ekstrakulikuler yang di dalamnya berisi wawasan lingkungan hidup; dan
penambahan pendidikan lingkungan hidup sebagai muatan lokal jika memungkinkan.
B.
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Akhadi, Mukhlis. 2014. Isu Lingkungan Hidup:
Mewaspadai Dampak Kemajuan Teknologi dan Polusi Lingkungan Global yang
Mengancam Kehidupan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Anisa Rifatul H. 2015. Integrasi
Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Pembelajaran Akidah Akhlak di MAN Yogyakarta
II. Skripsi Jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan
Kalijaga: Yogyakarta.
Hasbullah. 2011. Dasar-dasar Ilmu
Pendidikan (Umum dan Agama Islam). Edisi Revisi 9. Jakarta: Rajawali Press.
Maunah, Binti. 2009. Landasan
Pendidikan. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Teras.
M. Husein, Harun. 1995. Lingkungan
Hidup: Masalah, Pengelolaan, dan Penegakan Hukumnya. Cetakan Kedua. Jakarta:
Bumi Aksara.
Muhamad, Soerjani. 2009. Pendidikan
Lingkungan (Environmental Education). Jakata : UI Press.
Purwanto, M. Ngalim. 2004. Ilmu Pendidikan
Teoretis dan Praktis. Edisi Kedua. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Salim, Emil. 2010. Ratusan Bangsa
Merusak Satu Bumi. Jakarta: Kompas.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
[1]
Binti Maunah, Landasan
Pendidikan. (Yogyakarta: Teras, Cetakan kedua, 2009), hal 1
[2] Ibid.
[3]
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab
II Pasal 3
[4] Ibid, hal
16-17
[5] Harun M.
Husein, Lingkungan Hidup: Masalah, Pengelolaan, dan Penegakan Hukumnya, (Jakarta:
Bumi Aksara, Cetakan Kedua, 1995), hal 6
[6] M. Ngalim
Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
Edisi kedua, 2004), hal 72
[7]
Harun M.
Husein, Lingkungan Hidup: Masalah, Pengelolaan, dan Penegakan Hukumnya,
hlm 8-11
[8] Ibid.
[9] Emil Salim, Ratusan
Bangsa Merusak Satu Bumi, (Jakarta: Kompas, 2010), hal. 170-173
[10] Ibid,
hal 204
[11] Soerjani
Muhamad, Pendidikan Lingkungan (Environmental Education), (Jakata : UI-Press, 2009), hal. 50
[12] Ibid.,
hal 51
[13] Anisa Rifatul
H, Integrasi Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Pembelajaran Akidah Akhlak
di MAN Yogyakarta II, (Jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Sunan Kalijaga: Yogyakarta, 2015), hal 13
[14] Mukhlis Akhadi,
Isu Lingkungan Hidup: Mewaspadai Dampak Kemajuan Teknologi dan Polusi
Lingkungan Global yang Mengancam Kehidupan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014)
hal. 284-286.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar