Senin, 28 Maret 2016

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAURRASYIDIN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist untuk membentuk manusia yang seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT, dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan pendidikan dalam seluruh kehidupannya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah dan rasul-Nya demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pada masa Nabi, negara Islam meliputi seluruh jazirah Arab dan pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rasulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam dipegang oleh Khulafaur Rasyidin dan wilayah Islam telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini memusatkan perhatiannya kepada pendidikan, syiarnya agama, dan kokohnya negara Islam.
Apa dan bagaimana pola pendidikan yang diterapkan oleh para khulafaur rasyidin pada masanya, sehingga dapat dijadikan perbandingan terhadap proses pendidikan pada masa sekarang. Makalah yang sederhana ini akan mencoba mengupas persoalan tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.   Bagaimana pola Pendidikan Islam pada masa Abu Bakar As Siddiq sampai Ali bin Abi Thalib?
2.      Bagaimana pendidikan secara keseluruhan pada kepemimpinan khulafaurrasyidin?

C.    Tujuan
1.   Mengetahui pola pendidikan Islam pada masa Abu Bakar As Siddiq sampai Ali bin Abi Thalib.
2.      Mengetahui pendidikan secara keseluruhan pada kepemimpinan khulafaurrasyidin.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Masa Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as-Siddiq (632-634 M)
Setelah Nabi wafat, sebagai pemimpin umat Islam adalah Abu Bakar as-Siddiq sebagai khalifah. Pada awal  masa kekhalifahan Abu Bakar digoncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi, dan orang-orang yang enggan membayar zakat.
Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan memengaruhi imannya orang-orang Islam untuk meyimpang dari ajaran agama Islam. Dengan demikian, dikirimlah pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dalam kejadian ini banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat Rasulullah, para hafidz Al-Qur’an, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang hafal Al-Qur’an. Oleh karena itu, Umar bin Khattab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian untuk merealisasikan saran tersebut diutuslah Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an.
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.
1.      Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
2.      Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan shalat puasa dan haji.
3.      Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
Menurut ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan kuttab. Kuttab adalah lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Rasul yang terdekat. Lembaga pendidikan Islam adalah Masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat sholat berjamaah, membaca al-qur’an dan lain sebagainya[1].

B.     Masa Kepemimpinan Umar bin Khattab (634-644M)
Sebelum Abu Bakar wafat, beliau telah menyaksikan persoalan yang timbul di kalangan kaum muslimin sejak Rasul wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat.[2]
Masa pemerintahan Umar bin Khatthab sekitar 10 tahun ini, mengalami perluasan wilayah kekuasaan. Yang mana Madinah sebagai pusat pemerintahan. Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh  tidak diperlukan untuk keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan terpusat di Madinah.[3]
1.      Pendidikan pada masa Khalifah Umar
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pendidikan juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya, Pola penddidikan dimasa ini mengalami perkembangan. Khalifah saat itu sering mengadakan penyuluhan (pendidikan) di kota Madinah. Beliau juga menerapkan pendidikan di Masjid-masjid dan mengangkat guru dari sahabat-sahabat untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bukan hanya bertugas mengajarkan al-Quran, akan tetapi juga dibidang Fiqih. Adapun tenaga pengajar sebagian besar adalah para sahabat yang senior, antara lain Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hasyim (di Bashrah), Abdurrahman bin Ghanam (di Syiria), Hasan bin Abi Jabalah (di Mesir).[4] Adapun mata pelajaran yang diberikan meliputi membaca dan menulis al-Qur’an dan menghafalkannya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Namun Pendidikan pada masa Umar bin Khattab lebih maju daripada dengan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai nampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukan harus belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa Arab.
Berdasarkan hal di atas, pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Khattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan di samping telah diterapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu–ilmu lainnya. Pendidikan dikelola di bawah pengaturan Gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.[5]

C.    Khalifah Usman Ibn Affan (644-656 M)
Usman diangkat menjadi khalifah tidak langsung ditunjuk oleh Umar Ibn Khattab akan tetapi hasil dari pemilihan Panitia Enam yang ditunjuk oleh khalifah Umar Ibn Khattab sebelum ajalnya tiba. Panitia yang enam itu adalah Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib, Thalhah, Zubair Ibn Awwam, Saad Ibn Abi Waqash dan Abdurrahman Ibn Auf. Melalui proses pemilihan oleh tim 6 tersebut, Usman berhasil terpilih menggantikan Umar Ibn Khattab. Masa pemerintahan Usman ini berlangsung selama 12 tahun, pada masa pemerintahannya ini terdapat sejumlah program penting yang dapat dilaksanakan, antara lain membangun bendungan, jalan, jembatan, masjid, memperluas masjid Nabi di Madinah, dan penulisan Al-Qur’an.[6]
      Perkembangan pendidikan islam pada masa Usman ibn Affan
Pada masa khalifah Usman ibn Affan, pelaksanaan pendidikan Islam ditinjau dari aspek lembaga dan materi, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada sebelumnya, namun hanya terjadi sedikit perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, oleh Usman diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Pola pendidikan pada masa Usman ini lebih merakyat dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin mempelajari ajaran Islam karena pusat pendidikan lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Pelaksanaan pendidikan pada masa ini diserahkan kepada masyarakat dan masyarakatlah yang lebih banyak inisiatif dalam melaksanakan pendidikan termasuk pengangkatan para pendidik.
Walaupun demikian ada usaha yang sangat cemerlang dan menentukan yang dilakukan Usman Ibn Affan, yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan Islam di masa yang akan datang, usaha tersebut adalah terjadinya kodifikasi Al-Qur’an.[7]

D.    Khalifah Ali Ibn Abi Thalib (656-661 M)
Ali Ibn Abi Thalib adalah khalifah yang keempat setelah Usman Ibn Affan. Pemerintahannya diguncang oleh peperangan dengan ‘Aisyah (istri Nabi SAW) beserta Thalhah dan Abdullah ibn Zubair. Peperangan ini disebabkan karena kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman Ibn Affan. Peperangan tersebut dinamakan Perang Jamal (unta) karena ‘Aisyah menunggang unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan ‘Aisyah, dan lawan-lawannya muncul pula pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan Khalifah Ali Ibn Abi Thalib tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.
Peperangan selanjutnya terjadi dengan Muawwiyah ibn Abi Sufyan. Muawwiyah sebagai gubernur di Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Peperangan ini disebut peperangan Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara Muawwiyah terdesak oleh pasukan Ali pada peperangan tersebut, maka Muawwiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan Tahkim (penyelesaian dengan adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi karena desakan sebagian tentaranya akhirnya Ali menerimanya, namun tahkim malah menimbulkan kekacauan, dikarenakan Muawwiyah melakukan kecurangan. Dan dengan adanya tahkim tersebut Muawwiyah berhasil mengalahkan Ali Ibn Abi Thalib dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali Ibn Abi Thalib dengan cara tahkim, meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri. Kelompok tersebut disebut Khawarij.[8]
      Perkembangan pendidikan Islam pada masa Ali Ibn Abi Thalib
Pada masa Ali Ibn Abi Thalib tidak terlihat perkembangan pendidikan yang berarti karena pada masa ini telah terjadi kekacauan politik dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu Ali Ibn Abi Thalib tidak sempat lagi memikirkan masalah  pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya ditumpahkan kepada masalah keamanan di dalam pemerintahannya.[9]

E.     Pendidikan pada Masa Khulafaur Rasyidin Secara Keseluruhan
Pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin ini secara keseluruhan dapat disimpulkan:
1.      Islam telah mengalami perkembangan keluar jazirah Arab, dengan demikian penyebaran Islam sudah semakin meluas, seiring dengan itu meluas pulalah kebutuhan pendidikan, baik bagi umat Islam yang telah lama memeluk Islam maupun bagi pendatang baru (muallaf) yang memerlukan bimbingan.
2.      Pendidikan keagamaan (akidah, ibadah, akhlak, serta Alquran dan Sunnah) merupakan core dari pendidikan Islam.
3.      Banyaknya sahabat Nabiyang pindah ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan, merupakan modal dasar bagi semakin semaraknya pendidikan Islam di wilayah tersebut.
4.      Persentuhan dengan budaya-budaya baru serta kepercayaan masyarakat pada wilayah yang ditaklukkan Islam, berakibat munculnya pemikiran dan persoalan baru dalam bidang sosialdan yang tentu mendapat solusinya.
5.      Dalam keadaan bagaimanapun suasana yang dialami umat Islam, namun pendidikan keagamaan berjalan dengan baik, masjid-masjid tetap berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
6.      Dipandang dari aspek pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Pendidik dan peserta didik. Pendidik adalah Khulafaur Rasyidin dan para sahabat Rosul lainnya. Ketika futuhat dilaksanakan, maka banyaklah para sahabat Rosul yang pindah ke wilayah-wilayah baru yang ditaklukkan tersebut, mereka bertugas sebagai pendidik di wilayah baru. Peserta didiknya adalah seluruh umat Islam baik yang sudah lama memeluk Islam begitu juga yang baru memeluk Islam.
b.      Materi pembelajaran, terpusat kepada materi agama, meliputi akidah, ibadah, akhlak, Alquran, muamalah, jinayah, hudud, dan masalah-masalah hukum lainnya.
c.       Lembaga pendidikan, masjid, kuttab, rumah-rumah para pendidik.
d.      Pembiayaan, berasal dari sumber-sumber keuangan negara: zakat, jizyah, kharaj, dan infak.
e.       Tujuan pembelajaran adalah membentuk kepribadian Muslim yang baik.[10]



BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Setelah Rosulululloh wafat, maka kepemimpinan umat Islam tidak boleh kosong dan harus ada yang menggantikan beliau sebagai pemimpin umat Islam pada masa itu. Mengingat jika tidak ada yang menggantikan beliau sebagai pemimpin umat muslim ditakutkan perebutan kursi kepemimpian akan menjadi suatu kompetisi keras dan terjadi adanya saling bunuh membunuh diantara para kaum muslimin demi memperebutkan kepemimpinan tersebut. Maka dari itu, terjadilah musyawarah sebagaimana yang dilakukan pada masa Rosululloh untuk mencari jalan keluar dari suatu permasalahan, musyawaroh tersebut dilakukan oleh kaum Anshor dan Muhajirin. Pada awalnya masing-masing dari pihak mereka merasa paling berhak untuk mengambil alih kepemimpinan setelah wafatnya Rosululloh SAW. Hingga akhirnya musyawarah tersebut mengalami jalan temu dengan kesepakatan untuk diangkatnya Abu Bakar As Siddicq sebagai pemimpin umat Islam menggantikan Rosululloh. Lalu, terpilihlah Abu Bakar As Siddicq yang terkenal dengan sebutan kholifah pertama dari ke empat khulafaurrasyidin dalam umat Islam.
Dalam berjalannya roda kepemimpinan yang berada semasa jabatan kepemimpinan Khulafaurrasyidin tentunya tidak lepas dari peran serta pendidikan pada masa itu. Pendidikan dianggap penting karena itu merupakan jalan masuknya ilmu pengetahuan dan syiar untuk menyebarkan ilmu agama sebagai sarana dakwah bagi umat Islam.
Pada masa kepemimpinan khulafaur rasyidin sendiri, pendidikan pada masa itu mengalami keadaan yang berbeda sesuai dengan kondisi pemerintahan pada saat itu. Pertama yaitu pada masa khalifah Abu Bakar Siddicq pendidikan sendiri cenderung masih menggunakan strategi dan corak sebagaimana yang dilakukan pada masa Rosululloh SAW yaitu pendidikan yang berkaitan dengan Alquran, keagamaan (akidah, ibadah, dan akhlak), sosial kemasyarakatan, dakwah Islam, pertahanan keamanan.
Kedua, keadaan pendidikan pada masa pemerintahan Umar Bin Khattab mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Hal ini dikarenakan adanya ekspansi kekuasaan Islam ke daerah lain yang mana juga memungkinkan untuk semakin mendesaknya kebutuhan terutama dari tenaga pengajarnya itu sendiri ke daerah yang sudah dikuasai. Jika pada pemerintahan sebelumnya para sahabat sebagai tenaga pendidik tidak boleh ke luar Madinah kecuali dengan alasan tertentu maka pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab para sahabat diutus ke daerah yang telah dikuasai guna bertindak sebagai tenaga pengajar di daerah tersebut untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan juga syiar Islam. Pada pemerintahan Umar bin Khattab ini juga terjadi fariasi bentuk pendidikan, misalnya saja pada mata pelajaran sudah duajarkan syair-duajarkan syair-syair, pepatah-pepatah, berenang, menunggang kuda. Selain itu, dibentuk juga institusi pendidikan Kuttab yang merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca/menghafal alquran serta belajar pokok-pokok agama.
Ketiga, pendidikan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh khalifah sebelumnya yaitu mengenai pendidikan agama (akidah, ibadah, akhlak), kemasyarakatan, begitu juga pendidikan Alquranul karim. Tempat untuk melaksanakan pendidikan tersebut ialah berada di masjid-masjid dan untuk pendidikan anak-anak dilaksanakan di Kuttab.
Keempat, pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib sedikit berbeda dengan keadaan pemerintahan pada masa khalifah sebelumnya. Pendidikan sendiri pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib tetap berjalan meski keadaan politik pada saat itu sedang mengalami gonjang-ganjing dan pertikaian antar kelompok terutama kelompok Ali dengan Muawiyyah. Walau suasana sedemikian genting namun pendidikan tetap berjalan terutama pendidikan agama yang tetap dilaksanakan di masjid. Masjid selain dijadikan tempat ibadah juga berfungsi sebagai sarana terlaksananya pendidikan.
B.     Kritik dan Saran
1.      Pemerintah selaku penyelenggara pendidikan seharusnya bisa mengatur pemerintahan secara baikdan benar supaya tidak terjadi gejolak politik yang berimbas pada dunia pendidikan.
2.      Masalah pendidikan merupakan suatu kewajiban bersama untuk kita budayakan dengan baik, bukan hanya sekedar tugas pemerintah selaku penyelengara pendidikan.
3.      Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa mensejahterakan masyarakatnya yaitu salah satunya dengan cara penyelenggaraan pendidikan dengan baik guna mencerdaskan kehidupan bangsa.
4.      Masyarakat juga seharusnya menjunjung tinggi dengan yang namanya pendidikan karena pendidikan merupakan alat pemenuh kebutuhan masyarakat terutama dalam hal ilmu pengetahuan.
5.      Sebagai seorang muslim, ketika hendak menyelenggarakan suatu pendidikan hendaknya tidak meninggalkan aspek keislaman yang telah diajarkan oleh Rosululloh SAW.




DAFTAR PUSTAKA

Daulay.Haidar Putra dan Nugraha Pasa. 2013.Pendidikan Islam Dalam Lintas Sejarah.Jakarta: Kencana
Nata. Abuddin. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Nizar. Samsul. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Ramayulis. 2012.Sejarah Pendidikan Islam: Perubahan konsep, filsafat dan metodologi dari Era Nabi SAW sampai Ulama Nusantara. Jakarta: Kalam Mulia.
Sukarno dan Supardi. Ahmad. 1983.Sejarah dan Filsafat Islam. Bandung:  Angkasa.
Yatim. Badri. 2008.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajagrafindo Persada.



[1] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2011). Hal. 45-46
[2]Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 37
[3]Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, (Bandung:  Angkasa, 1983), hal. 51.
[4]Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2011) hal. 47.


[5]Ibid,.. hal 48
[6]Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta: Kencana, 2011), Hal. 115
[7]Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam: Perubahan konsep, filsafat dan metodologi dari Era Nabi SAW sampai Ulama Nusantara, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), Hal. 60
[8]Ibid, Hal. 61
[9]Ibid, Hal. 61-62
[10]Haidar Putra Daulay dan Nugraha Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintas Sejarah, Kencana, 2013, hal 57-58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar