Rabu, 10 Juni 2015

Makalah Psikologi Kepribadian

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Kepribadian selalu menjadi salah satu topik bahasan yang penting karena kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami manusia seutuhnya.

Manusia memiliki macam atau jenis potensi yang sama ketika dilahirkan, namun dengan tingkat kualitas yang berbeda-beda. Ketika potensi itu aktual dalam kepribadian, segera tampak bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai kepribadian yang sama. Psikologi lahir sebagai ilmu yang berusaha memahami manusia seutuhnya, yang hanya dapat dilakukan melalui pemahaman tentang kepribadian.

Di dalam makalah ini akan membahas tentang pengertian kepribadian, aspek-aspek kepribadian, faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian dan tipologi.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kepribadian ?
2.      Apa saja aspek-aspek kepribadian ?
3.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian ?
4.      Apa pengertian tipologi dan macam-macam tipologi ?

  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian kepribadian.
2.      Untuk mengetahui aspek-aspek kepribadian.
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor kepribadian.
4.      Untuk mengetahui pengertian tipologi dan macam-macam tipologi.




BAB II
PEMBAHASAN

A.            Arti Kepribadian
            Menurut asal katanya , kepribadian atau personality berasal dari bahasa Latin personare, yang berarti mengeluarkan suara. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suara dari percakapan seorang pemain sandiwara melalui topeng (masker) yang dipakainya. Pada mulanya istilah persona berarti topeng yang dipakai oleh pemain sandiwara, di mana suara pemain sandiwara itu diproyeksikan. Kemudian kata persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri.
               Dari sejarah pengertian kata tersebut, tidak heran kita jika kata persona yang mula-mula berarti topeng, kemudian diartikan pemainnya itu sendiri (orangnya) yang memainkan peranan yang diperankan seperti yang digambarkan dalam topeng tersebut. Akhirnya kata persona itu menunjukkan pengertian tentang kualitas dari watak/ karakter yang dimainkan di dalam sandiwara itu. Kini kata personality oleh para ahli psikologi dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang nyata dan dapat dipercaya tentang individu untuk menggambarkan bagaimana dan apa sebenarnya individu itu.

Definisi Kepribadian 
Berikut ini adalah beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai untuk mempelajari kepribadian.
Gordon W.W. Allport
“Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophisycal systems that determine his uniqueadjustments to his environment” (Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan cara yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya).
Krech dan Crutchfield
“Personality is the intregation of all an individual’s characteristics into a unique organization that determines, and is modified by, his attemps at adaption to his continually changing environment” (Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke-dalam suatu kesatuan unik yang menentukan dan dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus).

Adolf Heuken S.J.
“Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang, baik jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial. Semua ini telah ditata dalam caranya yang khas di bawah berbagai pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut.
1.                       Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri atas aspek psikis, seperti: inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita, dan sebagainya, serta aspek fisik, seperti bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dan sebagainya.
2.                       Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus-menerus, dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik.
3.                       Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan, tetapi dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap.
4.                       Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.

B.                Aspek-aspek Kepribadian
Telah dikatakan bahwa kepribadian itu mengandung pengertian yang kompleks. Ia terdiri dari bermacam-macam aspek, baik fisik maupun psikis. Aspek-aspek tersebut ialah :

·                     Sifat-sifat kepribadian (personality traits), yaitu sifat-sifat yang ada pada individu seperti : penakut, pemarah, suka bergaul, peramah, suka menyendiri dan lain-lain.
·                     Intelijensi. Kecerdasan atau intelijensi merupakan aspek kepribadian yang penting. Termasuk di dalamnya kewaspadaan, kemampuan belajar, kecepatan berpikir, kesanggupan untuk mengambil keputusan yang tepat, kepandaian menangkap dan mengolah kesan-kesan atau masalah, dan kemampuan mengambil kesimpulan.
·                     Pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan. Termasuk kedalam aspek ini antara lain : kejujuran, berterus terang, pendendam, mudah melupakan kesan-kesan, dan lain-lain.
·                     Kesehatan. Kesehatan jasmaniah atau bagaimana kondisi fisik sangat erat hubungannya dengan kepribadian seseorang.
·                     Bentuk tubuh. Termasuk besarnya, beratnya dan tingginya
·                     Sikapnya terhadap orang lain. Sikap terhadap orang lain tidak terlepas daari orang itu terhadap dirinya sendiri.
·                     Pengetahuan. Kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki seseorang, dan jenis pengetahuan apa yang lebih dikuasainya, semua itu turut mempengaruhi kepribadiannya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang memainkan peranan penting di dalam pekerjaan/jabatannya, cara-cara penerimaan dan penyesuaian sosialnya, dan sebagainya.
·                     Ketrampilan. Ketrampilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu, sangat mempengaruhi bagaimana cara orang itu bereaksi terhadap situasi-situasi tertentu.
·                     Nilai-nilai. Nilai-nilai yang ada pada seseorang dipengaruhi oleh adat istiadat, etika, kepercayaan dan agama yang dianutnya. Semua itu mempengaruhi sikap, pendapat dan pandangan kita yang selanjutnya tercermin dalam cara-cara kita bertindak dan bertingkah laku.
·                     Penguasaan dan kuat-lemahnya perasaan. Keadaan perasaan yang berbeda-beda pada individu sangat mempengaruhi kepribadiannya
·                     Peranan, yaitu kedudukan atau posisi seseorang di dalam masyarakat di mana ia hidup. Termasuk dalam peranan ini ialah tempat dan jabatannya sperti tinggi rendahnya kedudukan itu, karena kedudukan seseorang dalam masyarakat menentukan tugas kewajiban dan tanggung jawabnya, yang selanjutnya menentukan sikap dan tingkah lakunya.
·                     The Self, yaitu anggapan dan perasaan-perasaan yang ada pada tiap-tiap orang tentang dirinya sendiri.



C.                Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian antara lain sebagai berikut:
1.                  Faktor biologis
Yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani atau sering disebut faktor fisiologis.
Sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang diperoleh dari keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu masing-masing. Keadaan fisik yang berlainan itu menyebabkan sikap dan sifat-sifat yang berbeda-beda pula.
Secara sepintas pengaruh keturunan (hereditas) tampak memiliki peran penting dalam pembentukan struktur badan seperti tinggi, berat dan kuat. Namun, kita juga tidak dapat mengabaikan pengaruh lingkungan dalam pembentukan karakter nalar seperti kecerdasan, baik itu persoalan makanan, kesehatan, olahraga, memiliki pengaruh besar pada perbedaan individual. Begitu juga dengan proses pendidikan dan pelatihan keterampilan.
2.             Faktor sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial disini ialah masyarakat, yakni manusia-manusia lain di sekitar individu yang mempengaruhi individu yang bersangkutan. Yang termasuk juga tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa dan sebagainya yang berlaku dalam masyarakat itu.
3.             Faktor kebudayaan
Meliputi cara-cara hidup, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, bahasa, kepercayaan dari suatu daerah/masyarakat tertentu berbeda dengan masyarakat yang lain.
Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing-masing orang/anak tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana anak itu dibesarkan.



D.                TIPOLOGI 
Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar faktor tertentu, misalnya : karakteristik, fisik, psikis, dsb. Berikut ini akan dijelaskan beberapa macam tipologi.
TIPOLOGI  KONSTITUSI  PHISIS
Tipologi Konstitusi Phisis merupakan tipologi yang dikembangkan atas dasar aspek jasmaniah. Berikut beberapa ahli yang telah mengembangkan Tipologi Konstitusi Phisis :
·        Tipologi Hyprocates-Galenus
Didalam tipologi ini, menggunakan empat macam cairan yang terdapat didalam tubuh manusia, yaitu : darah (sangui), lympha (flegma), empedu kuning (choleri) dan empedu hitam (melanchole). Dengan menggunaka empat cairan itu Galenus menggolongkan manusia atas empat tipe pula, yaitu :
a.       Orang yang terlalu banyak sangui didalam tubuhnya, disebut orang sanguinisi, sifatnya disebut sanguinis dan cirri-cirinya : ekspansif, lincah, selalu riang, optimis, mudah tersenyum, dsb.
b.      Orang yang terlalu banyak flegma didalam tubuhnya, disebut orang flegmatisi, sifatnya disebut flegmatis, dengan ciri-cirinya : plastis, tenang, dingin, sabar, tidak mudah terpengaruh, dsb.
c.       Orang yang terlalu banyak chole didalam tubuhnya, disebut orang cholerisi, sifatnya disebut choleris, dengan ciri-cirinya : garang, lekas marah, mudah tersinggung, pendendam, serius, dsb.
d.      Orang yang terlalu banyak melanchole didalam tubuhnya, disebut orang melancholisi, sifatnya disebut melancholis, dengan ciri-cirinya : kaku, muram, penakut, pesimis, dsb.
·        Tipologi Sigaud
Sigaud menyusun tipologinya atas dasar empat fungsi tubuh, yaitu :motorik, pernafasan, pencernaan, dan susunan syaraf sentral. Fungsi fisiologis manakah yang terkuat pada seseorang, disitulah orang itu digolongkan, Sigaud juga menggolongkan manusia atas empat golongan, yaitu :
a.       Orang yang kuat fungsi motoriknya, termasuk tipe muskuler, dengan ciri-cirinya : anggota badannya serba panjang dan bersudut.
b.      Orang yang kuat pernafasannya, termasuk tipe respiratoris, dengan ciri-cirinya : bentuk dadanya membusung, wajah lebar.
c.       Orang yang kuat pencernanya, termasuk tipe digestif, dengan ciri-cirinya : perutnya besar, pinggangya lebar.
d.      Orang yang kuat syaraf sentralnya, termasuk tipe serebral, dengan ciri-cirinya: langsing, tulang tengkoraknya bagian atas besar sekali.
·        Tipologi Kretschemr
Tokoh ini menyusun tipologinya berdasar konstitusi fisis dan konstitusi psikhis.
Tipologinya yang berdasar konstitusi jasmani :
a.       Tipe Piknis, dengan bentuk badan : serba bulat, serba pendek, perut gendut,wajah bundar, badan berlemak, dada berisi, dsb.
b.      Tipe Asthenis, dengan bentuk badan : langsing, anggota badan serba panjang,dada rata, kepala kecil, wajah sempit, dsb.
c.       Tipe Atletis, dengan bentuk badan campuran antara Piknis dan Asthenis.
d.      Tipe Despatis, dengan bentuk badan : tinggi besar sekali atau kecil dan pendek.
Tipologinya yang berdasar konstitusi psikhis ialah :
a.       Schizothym, dengan sifat-sifat : suka bergaul, tidak banyak kawan dan egoistis.
b.      Cyclothym, dengan sifat-sifatnya : mudah bergaul, banyak teman.
TIPOLOGI  TEMPERAMEN
Tipologi Temperamen merupakan tipologi yang disusun berdasarkan karakteristik segi kejiwaan. Dasar pemikiran yang digunakan para tokoh dalam mengembangkan tipologi temperamen adalah bahwa berbagai aspek kejiwaan seseorang menentukan karakteristik tipologi seseorang yang tergolong tipologi jenis ini. Berikut beberapa ahli yang telah mengembangkan Tipologi Temperamen :
·        Tipologi Plato
Menurut Plato, kemampuan jiwa manusia terdiri atas tiga macam, yaitu pikiran, kemauan dan hasrat. Dominasi kemampuan inilah yang menyebabkan kekhasan pada diri manusia. Atas dasar ini Plato menggolongkan manusia ke dalam tiga tipe, yaitu :
a.       Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh pikirannya, yang sesuai untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan,
b.      Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh kemauannya, sesuai untuk menjadi tentara,
c.       Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh hasratnya, cocok menjadi pekerja tangan.
·        Tipologi Heymans
Heymans menggolongkan kepribadian manusia menjadi beberapa tipe atas dasar kualitas kejiwaannya, yaitu : 1. Emosionalitas, mudah tidaknya perasaan terpengaruh oleh kesan-kesan, 2. Proses pengiring, yaitu kuat lemahnya kesan-kesan ada dalam kesadaran setelah faktor yang menimbulkan kesan-kesan tersebut tidak ada, 3. Aktivitas, yaitu banyak sedikitnya peristiwa-peristiwa kejiwaan menjelma menjadi tindakan nyata.
Setiap kualitas kejiwaan tersebut secara teoritis dibedakan menjadi dua macam, yaitu kuat dan lemah. Berikut tabel Ikhtisar Tipologi menurut Heymans :
No
Emosionalitas
Proses Pengiring
Aktivitas
Tipe
1
emosional ( + )
kuat ( + )
aktif ( + )
Gepasioner
2
emosional ( + )
kuat ( + )
pasif ( - )
Sentimentil
3
emosional ( + )
lemah ( - )
aktif ( + )
Kholeris
4
emosional ( + )
lemah ( - )
pasif ( - )
Nerveus
5
tidak emosional ( - )
kuat ( + )
aktif ( + )
Flegmantis
6
tidak emosional ( - )
kuat ( + )
pasif ( - )
Apatis
7
tidak emosional ( - )
lemah ( - )
aktif ( + )
Sanguinis
8
tidak emosional ( - )
lemah ( - )
pasif ( - )
Amorph

            TIPOLOGI  BERDASAR  KEBUDAYAAN
Bahwa kehidupan manusia dipengaruhi oleh kebudayaan, oleh karena kebudayaan itu selalu berada disekitar kita, dilingkungan hidup kita sehari-hari. Berikut beberapa tokoh yang didalam teorinya menggunakan dasar kebudayaan :
  • Tipologi Riesman
                        Ia menggolongkan manusia atas tiga golongan, yaitu :
a.       Orang-orang yang pribadinya di tentukan oleh tradisi,
b.      Orang-orang yang membiarkan dirinya dipimpin oleh rohaninya, dan
c.       Orang-orang yang mendasarkan dirinya pada norma-norma yang dikemukakan oleh orang lain kepadanya.
  • Tipologi E. Spranger
Spranger menggolongkan kebudayaan sebagai system nilai menjadi enam bidang, yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
a.       Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai individu, yang didalamnya terdapat empat nilai budaya, yaitu : pengetahuan, ekonomi, kesenian dan keagamaan.
b.      Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat, yang didalamnya terdapat dua nilai budaya, yaitu : kemasyarakatan dan politik.
Tabel Tipologi atas Dasar Nilai-nilai Kebudayaan :
No
Nilai Kebudayaan yang Dominan
Tipe
Tingkah Laku Dasar
1
Pengetahuan
Manusia teori
Berpikir
2
Ekonomi
Manusia ekonomi
Bekerja
3
Kesenian
Manusia estetis
Menikmati keindahan
4
Keagamaan
Manusia religius
Memuja
5
Kemasyarakatan
Manusia sosial
Berkorban
6
Politik
Manusia kuasa
Berkuasa/ memerintah









PENUTUP

A.     Kesimpulan
          Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan cara yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
          Telah dikatakan bahwa kepribadian itu mengandung pengertian yang kompleks. Ia terdiri dari bermacam-macam aspek, baik fisik maupun psikis. Aspek-aspek tersebut ialah : Sifat-sifat kepribadian (personality traits), Intelijensi, Pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan, Kesehatan, Bentuk tubuh, Sikapnya terhadap orang lain, Pengetahuan,  Ketrampilan, Nilai-nilai, Penguasaan dan kuat-lemahnya perasaan, Peranan, dan The Self.
Kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Faktor biologis, Faktor sosial, dan Faktor kebudayaan.
Dalam Psikologi Kepribadian terdapat pula Tipologi, yaitu pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar faktor tertentu, misalnya : karakteristik, fisik, psikis, dsb. Berikut ini beberapa macam tipologi :
a.                  Tipologi Konstitusi Phisis, merupakan tipologi yang dikembangkan atas dasar aspek jasmaniah.
b.                  Tipologi Temperamen, merupakan tipologi yang disusun berdasarkan karakteristik segi kejiwaan. Dasar pemikiran yang digunakan para tokoh dalam mengembangkan tipologi temperamen adalah bahwa berbagai aspek kejiwaan seseorang menentukan karakteristik tipologi seseorang yang tergolong tipologi jenis ini.
c.                  Tipologi berdasar Kebudayaan, bahwa kehidupan manusia dipengaruhi oleh kebudayaan, oleh karena kebudayaan itu selalu berada disekitar kita, dilingkungan hidup kita sehari-hari. Berikut beberapa tokoh yang didalam teorinya menggunakan dasar kebudayaan




DAFTAR PUSTAKA

Jaenudin Ujam. 2012. Psikologi Kepribadian. Bandung: CV Remadja Karya
Purwanto, Ngalim. 1988. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sujanto, Agus, dkk. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara




Sekian dari saya, semoga membantu :)


Senin, 05 Januari 2015

Review Buku

Identitas Buku
  • Judul buku : PENGEMBANGAN KURIKULUM: Teori dan Praktek
  • Penulis : Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata
  • Penertbit : PT Remaja Rosdakarya
  • Tahun terbit : 2013
  • Tebal buku : viii + 220 halaman (termasuk cover)

Isi Buku
BAB 1 Konsep Kurikulum
Dalam bab ini dibahas bahwa adanya kurikulum formal dan tertulis merupakan ciri utama penidikan di sekolah. Dengan kata lain, kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan disekolah, karena setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan,memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.
BAB 2 Teori Kurikulum
Dijelaskan dalam bab ini bahwasanya teori kurikulum adalah suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum, yang mana bahan kajiannya adalah hal-hal yang berkaitan dengan keputusan-keputusan, penggunaan, perencanaan, pengembangan,evaluasi kurikulum dan lain-lain.
Teori kurikulum sendiri merupakan yang menguraikan pemilihan dan pemisahan kejadian/peristiwa kurikulum atau yang berhubungan dengan kurikulum dan yang bukan.
BAB 3 Landasan Filosofis dan Psikologis Pengembangan Kurikulum
Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pada bab ini yang dibahas adalah mengenai landasan filosofis dan landasan psikologis.
  1. Landasan Filosofis
Inti dari pendidikan adalah interaksi, terutama antara peserta pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, dan dalam suatu interaksi akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban-jawaban filosofis. Dan menurut landasan ini suatu pengembangan kurikulum akan bertolak pada tiga hal, yaitu: ontology, epistemology, dan aksiologi
  1. Landasan Psikologis
Minimal ada dua psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik di dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.
BAB 4 Landasan Sosial-Budaya, Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam
Pengembangan Kurikulum
  1. Pendidikan Masyarakat
Konsep pendidikan bersifat universal, tapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat, karena setiap lingkungan memiliki sistem sosial-budaya yeng berbeda, yang mana sistem ini mengatur pola hubungan antar-anggota masyarakat, antar anggota dan lembaga. Dan salah satu aspek yang cukup penting pada sistem ini adalah tatanan nilai-nilai yang ada pada masyarakat yang selalu berkembang.
  1. Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung maupun tidak langsung menuntut perkembangan pendidikan. Pengaruh langsungnya adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan, sedangkan untuk pengaruh tidak langsungnya adalah perkembangan iptek, menyebabkan perkembangan masyarakat yang dapat menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan dengan Pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan.
BAB 5 Macam-Macam Model Konsep Kurikulum
Dalam bab ini penulis menyebutkan ada empat macam model konsep kurikulum dalam pendidikan, yaitu: (a) Kurikulum subjek akademis, yang mana model kurikulum tertua. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik yang berorientasi pada masa lalu, yang mana fungsi pendidikannya adalah memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu; (b) Kurikulum humanistik, kurikulum ini menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan sajayang bersifat intelektual saja tetapi juga emosional dan tindakan, dan juga menekankan keseluruhan dalam memberikan pengalaman-pengalaman; (c) Kurikulum Rekonstruksi Sosial, kurikulum ini memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum inibersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama; (d) Kurikulum teknologis, kurikulum ini menekankan pada isi tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut, melainkan pada penguasaan kompetensi yang akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.
BAB 6 Anatomi dan Desain Kurikulum
Dijelaskan dalam bab ini bahwa unsur atau komponen-komponen kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian yang meliputi: (a) kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat; (b) kesesuaian antar komponen-komponen kurikulum.
Selanjutnya dibahas mengenai desain kurikulum yang mana menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur kurikulum. Berdasar pada apa yang menjadi fokus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain kurikulum, yaitu: 1. Subject centered design, 2. Learner centered design, 3. Problems centered design.
BAB 7 Proses Pengajaran
Pengajaran merupakan suatu kehidupan yang berisi hubungan simbiosis antara guru dengan siswa. Pengajaran adalah suatu perbuatan yang gentleman, suatu adaptasi alamiah antara seorang dengan yang lain. Fleksibilitas merupakan karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh guru, agar ia dapat mengembangkan kreativitasnya sendiri, membantu kreativitas siswa dan mengkreatifkan sekolahnya.
Kegiatan mengajar tidak dapat dilepaskan dari belajar, sebab keduanya merupakan dua sisi dari sebuah mata uang. Mengajar merupakan suatu upaya yang dilakukan guru agar siswa belajar. Tiap bahan pelajaran dapat diajarkan kepada anak secara efektif bila sesuai dengan tingkat perkembangan anak tersebut. Dibuku ini tertulis tiga masalah penting yang berkenaan dengan penyesuaian bahan ajar dengan perkembangan anak:
1. Perkembangan intelek,
2. Kegiatan belajar,
3. Spiral kurikulum.
BAB 8 Pengembangan Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu : administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu Pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah : administrator, guru, dan orang tua.
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak model yang dapat digunakan. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaianhasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan.
BAB 9 Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembangkurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi, serta sebagai fenomena sejarah, suatu elemen dalam proses sosial yang dihubungkan dengan perkembangan pendidikan.
BAB 10 Guru dan Pengembangan Kurikulum
Guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik professional. Sebagai pendidik professional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara professional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan professional. Dalam diskusi pengembangan model pendidikan professional tenaga pendidikan, yang diselenggarakan oleh PPS IKIP Bandung tahun 1990, dirumuskan 10 ciri suatu profesi, yaitu:
  1. Memiliki fungsi dan signifikansi sosial
  2. Memiliki keahlian/ketrampilan tertentu
  3. Keahlian/ketramplan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
  4. Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas
  5. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama
  6. Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai professional
  7. Memiliki kode etik
  8. Kebebasan untuk memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya
  9. Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi
  10. Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.
Indonesia menganut kurikulum yang bersifat sentralisasi, kurikulum disusun oleh suatu tim khususditingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh negara, daerah, ataujenjang/jenis sekolah. Tujuan utama pengembangan kurikulum yang uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah. Hal itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal, diantaranya; (1) wilayah Negara Indonesia yang luas; (2) kondisi dan karakteristik tiap daerah yang berbeda-beda; (3) perkembangan dan kemampuan sekolah yang berbeda-beda; (4) adanya golongan atau kelompok tertentu dalam masyarakat



Thanks for Visiting :-)
Semoga bermanfaat ....!!!