Identitas Buku
- Judul buku : PENGEMBANGAN KURIKULUM: Teori dan Praktek
- Penulis : Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata
- Penertbit : PT Remaja Rosdakarya
- Tahun terbit : 2013
- Tebal buku : viii + 220 halaman (termasuk cover)
Isi Buku
BAB
1 Konsep Kurikulum
Dalam
bab ini dibahas bahwa adanya kurikulum formal dan tertulis merupakan
ciri utama penidikan di sekolah. Dengan kata lain, kurikulum
merupakan syarat mutlak bagi pendidikan disekolah, karena setiap
praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu.
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses
pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan
demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan
suatu rencana pendidikan,memberikan pedoman dan pegangan tentang
jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.
BAB
2 Teori Kurikulum
Dijelaskan
dalam bab ini bahwasanya teori kurikulum adalah suatu perangkat
pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna
tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur
kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan
evaluasi kurikulum, yang mana bahan kajiannya adalah hal-hal yang
berkaitan dengan keputusan-keputusan, penggunaan, perencanaan,
pengembangan,evaluasi kurikulum dan lain-lain.
Teori
kurikulum sendiri merupakan yang menguraikan pemilihan dan pemisahan
kejadian/peristiwa kurikulum atau yang berhubungan dengan kurikulum
dan yang bukan.
BAB
3 Landasan Filosofis dan Psikologis Pengembangan Kurikulum
Mengingat
pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam
perkembangan kehidupan manusia, penyusunan kurikulum tidak dapat
dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan
landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil
pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pada bab ini yang dibahas
adalah mengenai landasan filosofis dan landasan psikologis.
- Landasan Filosofis
Inti dari
pendidikan adalah interaksi, terutama antara peserta pendidik dan
peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, dan dalam suatu
interaksi akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan
jawaban-jawaban filosofis. Dan menurut landasan ini suatu
pengembangan kurikulum akan bertolak pada tiga hal, yaitu: ontology,
epistemology, dan aksiologi
- Landasan Psikologis
Minimal ada dua
psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi
perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik
di dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih
dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.
BAB
4 Landasan Sosial-Budaya, Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam
Pengembangan
Kurikulum
- Pendidikan Masyarakat
Konsep pendidikan
bersifat universal, tapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal,
disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat, karena
setiap lingkungan memiliki sistem sosial-budaya yeng berbeda, yang
mana sistem ini mengatur pola hubungan antar-anggota masyarakat,
antar anggota dan lembaga. Dan salah satu aspek yang cukup penting
pada sistem ini adalah tatanan nilai-nilai yang ada pada masyarakat
yang selalu berkembang.
- Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi secara langsung maupun tidak langsung
menuntut perkembangan pendidikan. Pengaruh langsungnya adalah
memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam
pendidikan, sedangkan untuk pengaruh tidak langsungnya adalah
perkembangan iptek, menyebabkan perkembangan masyarakat yang dapat
menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan dengan
Pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan baru yang dikembangkan dalam
pendidikan.
BAB
5 Macam-Macam Model Konsep Kurikulum
Dalam
bab ini penulis menyebutkan ada empat macam model konsep kurikulum
dalam pendidikan, yaitu: (a) Kurikulum subjek akademis, yang mana
model kurikulum tertua. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan
klasik yang berorientasi pada masa lalu, yang mana fungsi
pendidikannya adalah memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya
masa lalu; (b) Kurikulum humanistik, kurikulum ini menekankan
integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan sajayang bersifat
intelektual saja tetapi juga emosional dan tindakan, dan juga
menekankan keseluruhan dalam memberikan pengalaman-pengalaman; (c)
Kurikulum Rekonstruksi Sosial, kurikulum ini memusatkan perhatian
pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum
inibersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka
pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama,
interaksi, kerja sama; (d) Kurikulum teknologis, kurikulum ini
menekankan pada isi tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan
pengawetan ilmu tersebut, melainkan pada penguasaan kompetensi yang
akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.
BAB
6 Anatomi dan Desain Kurikulum
Dijelaskan
dalam bab ini bahwa unsur atau komponen-komponen kurikulum yang utama
adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan
media, serta evaluasi. Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian yang
meliputi: (a) kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan,
kondisi, dan perkembangan masyarakat; (b) kesesuaian antar
komponen-komponen kurikulum.
Selanjutnya
dibahas mengenai desain kurikulum yang mana menyangkut pola
pengorganisasian unsur-unsur kurikulum. Berdasar pada apa yang
menjadi fokus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain
kurikulum, yaitu: 1. Subject centered design, 2. Learner centered
design, 3. Problems centered design.
BAB
7 Proses Pengajaran
Pengajaran
merupakan suatu kehidupan yang berisi hubungan simbiosis antara guru
dengan siswa. Pengajaran adalah suatu perbuatan yang gentleman, suatu
adaptasi alamiah antara seorang dengan yang lain. Fleksibilitas
merupakan karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh guru, agar ia
dapat mengembangkan kreativitasnya sendiri, membantu kreativitas
siswa dan mengkreatifkan sekolahnya.
Kegiatan
mengajar tidak dapat dilepaskan dari belajar, sebab keduanya
merupakan dua sisi dari sebuah mata uang. Mengajar merupakan suatu
upaya yang dilakukan guru agar siswa belajar. Tiap bahan pelajaran
dapat diajarkan kepada anak secara efektif bila sesuai dengan tingkat
perkembangan anak tersebut. Dibuku ini tertulis tiga masalah penting
yang berkenaan dengan penyesuaian bahan ajar dengan perkembangan
anak:
1.
Perkembangan intelek,
2.
Kegiatan belajar,
3.
Spiral kurikulum.
BAB
8 Pengembangan Kurikulum
Dalam
mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi,
yaitu : administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum,
ahli bidang ilmu Pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta
tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus
menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah : administrator,
guru, dan orang tua.
Dalam
mengembangkan suatu kurikulum banyak model yang dapat digunakan.
Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan
atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan
pencapaianhasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan
sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta
model konsep pendidikan mana yang digunakan.
BAB
9 Evaluasi Kurikulum
Evaluasi
kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan
pendidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan dalam
kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para
pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembangkurikulum dalam
memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan
dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi
kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan
para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu
perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan
alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan
lainnya.
Evaluasi
kurikulum merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan,
meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan
studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan suatu
fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi, serta sebagai
fenomena sejarah, suatu elemen dalam proses sosial yang dihubungkan
dengan perkembangan pendidikan.
BAB
10 Guru dan Pengembangan Kurikulum
Guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik professional.
Sebagai pendidik professional, guru bukan saja dituntut melaksanakan
tugasnya secara professional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan
dan kemampuan professional. Dalam diskusi pengembangan model
pendidikan professional tenaga pendidikan, yang diselenggarakan oleh
PPS IKIP Bandung tahun 1990, dirumuskan 10 ciri suatu profesi, yaitu:
- Memiliki fungsi dan signifikansi sosial
- Memiliki keahlian/ketrampilan tertentu
- Keahlian/ketramplan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
- Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas
- Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama
- Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai professional
- Memiliki kode etik
- Kebebasan untuk memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya
- Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi
- Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.
Indonesia menganut
kurikulum yang bersifat sentralisasi, kurikulum disusun oleh suatu
tim khususditingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh
negara, daerah, ataujenjang/jenis sekolah. Tujuan utama pengembangan
kurikulum yang uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan
kesatuan bangsa, serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi
seluruh wilayah. Hal itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal,
diantaranya; (1) wilayah Negara Indonesia yang luas; (2) kondisi dan
karakteristik tiap daerah yang berbeda-beda; (3) perkembangan dan
kemampuan sekolah yang berbeda-beda; (4) adanya golongan atau
kelompok tertentu dalam masyarakat
Thanks for Visiting :-)
Semoga bermanfaat ....!!!