Senin, 05 Januari 2015

Review Buku

Identitas Buku
  • Judul buku : PENGEMBANGAN KURIKULUM: Teori dan Praktek
  • Penulis : Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata
  • Penertbit : PT Remaja Rosdakarya
  • Tahun terbit : 2013
  • Tebal buku : viii + 220 halaman (termasuk cover)

Isi Buku
BAB 1 Konsep Kurikulum
Dalam bab ini dibahas bahwa adanya kurikulum formal dan tertulis merupakan ciri utama penidikan di sekolah. Dengan kata lain, kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan disekolah, karena setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan,memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.
BAB 2 Teori Kurikulum
Dijelaskan dalam bab ini bahwasanya teori kurikulum adalah suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum, yang mana bahan kajiannya adalah hal-hal yang berkaitan dengan keputusan-keputusan, penggunaan, perencanaan, pengembangan,evaluasi kurikulum dan lain-lain.
Teori kurikulum sendiri merupakan yang menguraikan pemilihan dan pemisahan kejadian/peristiwa kurikulum atau yang berhubungan dengan kurikulum dan yang bukan.
BAB 3 Landasan Filosofis dan Psikologis Pengembangan Kurikulum
Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pada bab ini yang dibahas adalah mengenai landasan filosofis dan landasan psikologis.
  1. Landasan Filosofis
Inti dari pendidikan adalah interaksi, terutama antara peserta pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, dan dalam suatu interaksi akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban-jawaban filosofis. Dan menurut landasan ini suatu pengembangan kurikulum akan bertolak pada tiga hal, yaitu: ontology, epistemology, dan aksiologi
  1. Landasan Psikologis
Minimal ada dua psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik di dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.
BAB 4 Landasan Sosial-Budaya, Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam
Pengembangan Kurikulum
  1. Pendidikan Masyarakat
Konsep pendidikan bersifat universal, tapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat, karena setiap lingkungan memiliki sistem sosial-budaya yeng berbeda, yang mana sistem ini mengatur pola hubungan antar-anggota masyarakat, antar anggota dan lembaga. Dan salah satu aspek yang cukup penting pada sistem ini adalah tatanan nilai-nilai yang ada pada masyarakat yang selalu berkembang.
  1. Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung maupun tidak langsung menuntut perkembangan pendidikan. Pengaruh langsungnya adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan, sedangkan untuk pengaruh tidak langsungnya adalah perkembangan iptek, menyebabkan perkembangan masyarakat yang dapat menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan dengan Pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan.
BAB 5 Macam-Macam Model Konsep Kurikulum
Dalam bab ini penulis menyebutkan ada empat macam model konsep kurikulum dalam pendidikan, yaitu: (a) Kurikulum subjek akademis, yang mana model kurikulum tertua. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik yang berorientasi pada masa lalu, yang mana fungsi pendidikannya adalah memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu; (b) Kurikulum humanistik, kurikulum ini menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan sajayang bersifat intelektual saja tetapi juga emosional dan tindakan, dan juga menekankan keseluruhan dalam memberikan pengalaman-pengalaman; (c) Kurikulum Rekonstruksi Sosial, kurikulum ini memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum inibersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama; (d) Kurikulum teknologis, kurikulum ini menekankan pada isi tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut, melainkan pada penguasaan kompetensi yang akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.
BAB 6 Anatomi dan Desain Kurikulum
Dijelaskan dalam bab ini bahwa unsur atau komponen-komponen kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian yang meliputi: (a) kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat; (b) kesesuaian antar komponen-komponen kurikulum.
Selanjutnya dibahas mengenai desain kurikulum yang mana menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur kurikulum. Berdasar pada apa yang menjadi fokus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain kurikulum, yaitu: 1. Subject centered design, 2. Learner centered design, 3. Problems centered design.
BAB 7 Proses Pengajaran
Pengajaran merupakan suatu kehidupan yang berisi hubungan simbiosis antara guru dengan siswa. Pengajaran adalah suatu perbuatan yang gentleman, suatu adaptasi alamiah antara seorang dengan yang lain. Fleksibilitas merupakan karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh guru, agar ia dapat mengembangkan kreativitasnya sendiri, membantu kreativitas siswa dan mengkreatifkan sekolahnya.
Kegiatan mengajar tidak dapat dilepaskan dari belajar, sebab keduanya merupakan dua sisi dari sebuah mata uang. Mengajar merupakan suatu upaya yang dilakukan guru agar siswa belajar. Tiap bahan pelajaran dapat diajarkan kepada anak secara efektif bila sesuai dengan tingkat perkembangan anak tersebut. Dibuku ini tertulis tiga masalah penting yang berkenaan dengan penyesuaian bahan ajar dengan perkembangan anak:
1. Perkembangan intelek,
2. Kegiatan belajar,
3. Spiral kurikulum.
BAB 8 Pengembangan Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu : administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu Pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah : administrator, guru, dan orang tua.
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak model yang dapat digunakan. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaianhasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan.
BAB 9 Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembangkurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi, serta sebagai fenomena sejarah, suatu elemen dalam proses sosial yang dihubungkan dengan perkembangan pendidikan.
BAB 10 Guru dan Pengembangan Kurikulum
Guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik professional. Sebagai pendidik professional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara professional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan professional. Dalam diskusi pengembangan model pendidikan professional tenaga pendidikan, yang diselenggarakan oleh PPS IKIP Bandung tahun 1990, dirumuskan 10 ciri suatu profesi, yaitu:
  1. Memiliki fungsi dan signifikansi sosial
  2. Memiliki keahlian/ketrampilan tertentu
  3. Keahlian/ketramplan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
  4. Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas
  5. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama
  6. Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai professional
  7. Memiliki kode etik
  8. Kebebasan untuk memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya
  9. Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi
  10. Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.
Indonesia menganut kurikulum yang bersifat sentralisasi, kurikulum disusun oleh suatu tim khususditingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh negara, daerah, ataujenjang/jenis sekolah. Tujuan utama pengembangan kurikulum yang uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah. Hal itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal, diantaranya; (1) wilayah Negara Indonesia yang luas; (2) kondisi dan karakteristik tiap daerah yang berbeda-beda; (3) perkembangan dan kemampuan sekolah yang berbeda-beda; (4) adanya golongan atau kelompok tertentu dalam masyarakat



Thanks for Visiting :-)
Semoga bermanfaat ....!!!